COITUS INTERUPTUS

Coitus Interuptus merupakan salah satu cara atau tehnik intim mencegah kehamilan. Cara ini ternyata banyak disuka. Yaitu dengan cara membuang sperma diluar.
Benarkah ampuh mencegah kehamilan? Ternyata tidak. Karena meski ‘dibuang’ diluar masih bisa terjadi kehamilan. 

Sungguh sayang dibuang. Dan benarkah nikmat sebagai variasi? Ternyata tidak semudah yang dibayangkan. Yang jelas faktor lelaki sangat berperan atas kesuksesan tehnik ini.
Hal apa yang paling penting bagi kedua pasangan sebelum melakukan orgasme diluar?
Sebelumnya saya ingin meluruskan dahulu bahwa orgasme dengan ejakulasi adalah dua hal yang berbeda. Bisa terjadi secara bersamaan atau sendiri-sendiri. Orgasme itu diartikan sebagai kenikmatan seks. Sedangkan ejakulasi adalah keluarnya cairan mani dari penis laki-laki, hal ini bisa berbarengan terjadi. Jadi bisa saja seseorang itu ejakulasi tanpa orgasme begitu pula sebaliknya.

Kembali ke soal senggama terputus, sebagai salah satu variasi dan dibuang tidak pada tempatnya, misalnya diletakkan di perut wanitanya atau tepatnya diatas pusar, harus ada persiapan, misalnya, dengan menyiapkan handuk maupun tisu untuk mengelap cairan yang keluar.

Tergantung pasangannya juga, jika menginginkan handuk yang hangat tinggal dikasih air hangat ataupun handuk yang kering saja. Atau handuk yang wangi dengan memercikan aroma wewangian. Lelakinya yang membersihkan, dengan halus dan mesra, supaya terjalin ikatan kasih sayang yang dalam.

Sebenarnya motivasi apa yang membuat orang melakukan senggama terputus ini?
Jelas yang pertama mencegah kehamilan, kemudian adanya variasi. Kadang pasangan yang tidak ingin hamil lebih memilih cara ini daripada menggunakan kondom. Karena menurut mereka menggunakan kondom kurang nyaman. Perlu diketahui dengan menggunakan kondom merek terkenal 90 % safety.

Apakah ejakulasi di luar itu aman untuk menunda kehamilan? Berapa persen kemungkinan untuk tidak hamil?
Tidak menjamin dan tidak bisa dikatakan 50 % tidak hamil, apalagi lebih. Meskipun dikeluarkan di luar tetap saja bisa hamil, dan hal ini banyak yang belum tahu. Mengapa? Karena ada beberapa faktor juga, antara lain laki-lakinya terlambat mengangkat penisnya keluar, kemudian wanitanya sedang dalam masa subur. Jadi risiko hamil itu besar.
Karena walaupun dikeluarkan sepenuhnya di luar tapi pada saat laki-laki terangsang dan penis ereksi sudah keluar cairan yang mengandung sperma yang jumlahnya tidak sebanyak air sperma, warnanya bening. Itu bisa membuahi.

Jadi tak benar jika ada yang mengatakan ketika penis sedikit terlambat diangkat namun sudah setengah keluar tidak akan hamil?
Tidak benar. Kemungkinan hamil masih bisa terjadi.
Ejakulasi diluar apakah dapat mengurangi kenikmatan bagi wanitanya?
Nikmat dirasakan pada saat penetrasinya. Dan sebaiknya ejakulasinya lebih baik dilakukan setelah wanitanya orgasme. Yang tidak enak justru setelahnya atau afterplay-nya, karena ada rasa lengket dan bau sperma. Tapi tergantung kesepakatan keduanya jika memang saling menginginkan.

Apakah laki-laki tersiksa saat melakukan hal ini, atau justru terasa nyaman dan aman?
Tersiksa saya rasa kurang tepat, kurang nyaman mungkin. Mereka tetap puas dan terangsang, hanya ada rasa tidak nyaman. Karena dia mesti mengeluarkan spermanya di luar, hal itulah yang tidak mudah dilakukan. Ada rasa yang hilang, misalnya tidak adanya penekanan dari dalam vagina. Begitu pula dengan wanita, mereka juga kurang merasa nyaman sebab sperma dibuang di bagian tubuh lain misalnya di perut dan harus membersihkannya.

Agar nyaman bagaimana caranya? Paling tidak bisa meminimalkan rasa tidak enak agar sedikit enak, seperti apa?
Dari pihak laki-lakinya harus menerima hal itu, apakah untuk variasi atau sebagai cara agar tidak hamil. Mungkin dengan cara memanjangkan waktu penetrasinya. Jadi butuh latihan juga sebelumnya. Itu tadi, seperti yang sudah saya katakan, saat mengeluarkan sperma diluar, lelakinya membantu membersihkan, sehingga wanita merasa nyaman.

Secara psikologis, apakah hal ini bisa menimbulkan siksaan bathin?
Bisa jadi seperti itu, mungkin di dalam batinnya ‘kok begini ya?’. Jadi secara psikologis keduanya harus siap mental. Menerima.

Perlukah latihan untuk melakukan hal ini?
Menurut saya perlu jika dilakukan sebagai variasi, disamping itu juga supaya tidak kaget. Latihan lebih baik dilakukan saat wanitanya tidak dalam masa subur.
Faktor apa yang membuat lelakinya pada awal-awal gagal ejakulasi di luar?
Karena belum biasa, ditambah faktor rasa nikmatnya sehingga sering terlambat untuk diangkat keluar. Apalagi jika belum-belum sudah terangsang maka cepat ejakulasi.

Apakah setelah itu tidak lagi?
Seorang laki-laki bisa mengatur hal itu. Semakin sering melakukannya dapat mengatur. Setelah itu mereka akan biasa karena latihan.
Mengapa bisa dikatakan sebuah variasi?
Karena ada hal-hal yang tidak biasa saat melakukan hubungan seks.
Benarkah jika dilakukan dengan pasangan selingkuh atau PSK dengan mengeluarkan sperma diluar dapat mencegah penyakit kelamin?
Tidak bisa. Sepanjang melakukan hubungan seks dimana penetrasi itu ada tetap berisiko menularkan penyakit kelamin.

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s